Sepenggal Pengalaman Manis Di Kebun Sawit

Sebagai anak muda yang baru menyelesaikan perkuliahan, mencari pekerjaan adalah tujuan utamaku. Namun, keputusan untuk merantau menjadi pilihan yang agak bertentangan dengan keluarga terutama dari orang tuaku disaat itu. Ya, aku ingin merasakan hidup jauh dari orangtua dan ingin merasakan hidup mandiri di perantauan.
Berbekal modal pertemanan dan keakraban dengan banyak orang, menjadi keuntungan tersendiri bagi diriku. Alhamdulillah, kebetulan aku memiliki teman yang mau membantuku untuk mendapatkan pekerjaan di luar kota. Singkat cerita, dia memiliki adik yang memilki jabatan tinggi di PT. Agro Bukit dan lagi membutuhkan seorang karyawan yang bisa mengoperasikan komputer seperti diriku ini.

Kesempatan itu tidaklah aku sia-siakan, dengan meminta ijin dari orangtua akhirnya mereka mengijinkanku untuk merantau ke Kalimantan. Jujur itu merupakan pengalaman pertama diriku ke kota orang yang jauh dari tempat tinggalku yaitu di kota Medan.

Tepatnya, Rabu 04 Februari 2015 akupun terbang ke Kalimantan dengan transit terlebih dahulu di Bandara Soekarno Hatta. Tujuan perjalananku sebenarnya adalah ke Kabupaten Kotawaringin Timur Kalimantan Tengah. Namun, karena jadwal penerbangan ke kota Sampt sudah full, akupun melalui rute Pangkalan Bun pada hari itu juga. Jujur pada saat itu aku sedikit merasakan takut saat diperjalanan, apalagi pada beberapa hari sebelumnya telah terjadi kecelakaan jatunya pesawat terbang Air Asia di perairan Pangkalan Bun.

Namun dengan semangat dan kemauan yang keras dan berbekal komunikasi sepanjang perjalanan, akhirnya akupun sampai dirumah adik dari temanku ini yang menawarkan pekerjaan pada diriku. Nama beliau adalah Pak Lamhot dan aku disuruh memanggilnya abang saja. Yah, orang Medan lebih akrab kalau dipanggil dengan sebutan abang ketimbang nama atau sebutan lainnya. Akupun disambut hangat oleh bang Lamhot dan keluarganya, walaupun hari itu menunjukkan sudah pukul 01.00 pagi, beliau masih menyempatkan untuk menungguku.

Aku tiba di perumahan staf asisten perkebunan kelapa sawit PT. Agro Bukit dengan menumpangi taksi dari Pangkalan Bun menuju Kotawaringin Timur ini. Oh ya, taksi disini pada umumnya bukanlah taksi yang ada di Jakarta atau kota-kota besar lainnya. Taksi disini merupakan mobil pribadi jenis Avanza atau Xenia yang dipergunakan sebagai moda transportasi untuk mengangkut penumpang dari bandara menuju lokasi tujuan penumpangnya.

Walaupun aku baru sampai dirumah bang Lamhot jam 1 pagi, jam 4 paginya aku juga harus bergegas berangkat ke lokiasi kerja (estate) bersama beliau untuk dikenalkan dengan teman-teman karyawan lainnya. Dengan sedikit rasa lelah akupun bangun jam 4 paginya dengan mengaktifkan alerm terlebih dahulu di ponselku. Setelah sarapan dengan keluarga mereka kamipun bergegas menuju estate VII yang jaraknya kurang lebih 1 jam lamanya dari rumah bang Lamhot.

Wah tidak terbayangkan bagi diriku dengan pengorbanan dan rutinitas yang dilakukan bang Lamhot dan para karyawan lainnya disini. Mereka jam 4 pagi sudah bangun, sarapan dan berangkat kerja untuk menuju tempat dimana mereka beraktivitas sehari-harinya. Menempuh perjalanan 1 jam dipagi hari dengan kondisi jalan berlumpur dan tidak adanya penerangan lampu jalan. Yang ada hanya suara sepeda motor, dan suara binatang malam disepanjang perjalanan.

Aku merasa malu pada diriku pada saat itu, biasanya aku paling cepat bangun jam 7 pagi ternyata disini aku harus merasakan susahnya pengorbanan yang mereka rasakan untuk menuju lokasi pekerjaan mereka selama ini. Jika hujan  deras, jalanan akan berlumpur dan laju sepeda motor akan sedikit terhambat.

Namun karena rutinitas dan sudah merupakan suatu kebiasaan yang harus dilalui, lambat laun akupun sudah terbiasa dengan kondisi tersebut. Justru aku mendapatkan hikmah dan suatu pelajaran bahwa kebiasaan bangun pagiku membuat hari-hariku lebih semangat dan hidupku terasa lebih sehat. Apalagi jauh dari kebisingan kota dan  hiruk pikuk kehidupan kota yang ramai dan serba polusi.

Singkat cerita akupun memulai aktivitas pertamaku bekerja di perkebunan kelapa sawit sebagai admin. Aku disambut dengan teman-teman baru yang akrab dan kocak serta bersahabat tersebut. Rasa kekeluargaan disana jauh lebih tinggi dibanding tempat tinggalku sebelumnya. Walaupun aku orang pendatang, namun mereka sangat menghargai dan menyambutku dengan rasa yang penuh keakraban.

Apalagi jika aku bertemu dengan orang-orang Medan, rasanya kami sudah berkenalan sebelumnya. Ya, tidak dipungkiri jika sesama dari asal daerah pastilah akrab dan dekat rasanya jika bertemu mereka. Walaupun aku hanyalah seorang admin, aku juga sering diajak bang Lamhot ke kantor pusatnya yang ada di Kotawaringin Timur ini. Dikenalkan dengan staf-staf lainnya dan diberi support dan semangat dari mereka.

Diluar rutinitas pekerjaanku sebagai admin di PT. Agro Bukit, ada kegiatan yang kukenang selama itu. Yaitu berkumpul bersama teman-teman disore harinya untuk berolahraga bermain volly ataupun sepakbola bersama mereka. Tidak dengan yang dibayangkan oleh kebanyakan orang lain, bahwa di Kalimantan itu orangnya susah untuk bergaul, atau memiliki mistik yang kuat dan harus berhati-hati bergaul dengan mereka. Namun sebaliknya itu hanya isapan jempol dari sebagian orang saja.

Justru sebaliknya aku merasakan suasana kekeluargaan dengan mereka, dengan suku asli wilayah tersebut yaitu suku Dayak. Bagiku mereka itu adalah teman sekaligus keluarga bagi diriku. Mereka sangat baik dan menghormati pendatang baru, namun  jika kita juga menghormati dan menjunjung tinggi norma-norma dan adat istiadat yang berlaku disitu. Pepatah “Dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung” merupakan pepatah yang harus diterapkan oleh siapa saja yang merantau seperti diriku ini.

1,5 tahun lamanya aku pun bekerja disana, namun karena kerinduan orangtua terhadap diriku dan pada saat itu mengalami kondisi sakit yang harus  aku lihat. Memutuskan aku untuk meninggalkan pekerjaanku selama ini sebagai admin di PT. Agro Bukit diKabupaten Kotawaringin Timur Kalimantan Tengah. Sebaik-baiknya pun diriku mendapatkan pekerjaan dan posisi yang enak disuatu perusahaan, jika jauh dari orangtua merupakan tekanan batin dan suatu kerinduaan yang harus kubayar selama itu.

Walau ada rasa berat untuk meninggalkan pekerjaan, teman-teman dan lingkungan perkebunan yang sudah menjadi tempat dimana aku merasakan suasana keakraban dan suasana kekeluargaan disana, namun orangtua merupakan pilihan utama yang harus aku prioritaskan. Aku memutuskan untuk risign dari tempat kerjaku tersebut dan memutuskan untuk pulang ke Medan dan kembali untuk lebih dekat dengan ibuku.

Dan hingga sekarang ini aku sudah memiliki pekerjaan tetap di Medan, dimana aku juga bisa berada lebih dekat bersama ibu dan keluarga ku lainnya. Satu pengalaman yang tidak pernah kulupakan adalah bisa merasakan berkumpul bersama orang-orang terdekatku, juga pernah merasakan berkumpul dengan teman-teman yang ada di PT. Agro Bukit.

Rasanya suatu hari nanti aku pingin kesana lagi hanya sekedar untuk bersilatuhrahmi dengan mereka, berjumpa dengan teman lama, berjumpa dengan bang Lamhot dan keluarganya dan jumpa dengan senior-seniorku di PT. Agro Bukit yang sudah memberiku pengalaman kerja yang sangat berharga bagi diriku hingga saat ini.
Terimakasih buat semuanya, aku merindukan kalian dan aku selalu mendoakan kalian semoga sehat dan sukses selalalu.
M. Juned, Medan  2017

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s